Mengapa Content Strategy Menjadi Kunci Keberhasilan Brand di Era Media Sosial, Ini Pandangan Yosua Banjarnahor
Gameindotek.com
Mengapa Content Strategy Menjadi Kunci Keberhasilan Brand
di Era Media Sosial, Ini Pandangan Yosua Banjarnahor
Persaingan di dunia digital semakin ketat seiring
bertambahnya jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana
pemasaran. Hampir setiap hari pengguna internet disuguhkan ribuan konten dari
berbagai platform, mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, LinkedIn, hingga
YouTube. Kondisi tersebut membuat perhatian audiens menjadi semakin terbatas.
Di tengah derasnya arus informasi, perusahaan tidak lagi cukup hanya mengunggah
konten secara rutin. Dibutuhkan strategi yang terarah agar setiap konten mampu
memberikan nilai tambah sekaligus mendukung tujuan bisnis.
Praktisi digital marketing Yosua Banjarnahor menilai
bahwa banyak bisnis masih menyamakan aktivitas membuat konten dengan content
strategy. Padahal, menurutnya, keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Membuat
konten adalah aktivitas produksi, sedangkan content strategy merupakan proses
perencanaan yang mencakup tujuan, target audiens, distribusi, hingga evaluasi
hasil.
"Banyak brand mengunggah konten setiap hari, tetapi
belum tentu memiliki strategi yang jelas. Akibatnya, konten hanya menjadi
aktivitas rutin tanpa memberikan dampak terhadap pertumbuhan bisnis," ujar
Yosua.
Menurutnya, strategi konten seharusnya dimulai dari
pemahaman mengenai tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Apakah konten tersebut
dibuat untuk meningkatkan kesadaran merek, membangun kepercayaan, menghasilkan
prospek penjualan, atau mempertahankan hubungan dengan pelanggan yang sudah
ada. Setiap tujuan membutuhkan pendekatan yang berbeda sehingga tidak dapat
disamaratakan.
Yosua menjelaskan bahwa salah satu kesalahan yang sering
terjadi adalah mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan relevansi terhadap
target audiens. Konten yang viral memang mampu menghasilkan jangkauan besar
dalam waktu singkat, tetapi belum tentu memberikan manfaat jangka panjang bagi
sebuah bisnis. Bahkan, tidak sedikit konten viral yang menghasilkan jutaan
tayangan namun tidak berdampak terhadap peningkatan penjualan maupun loyalitas
pelanggan.
Menurutnya, keberhasilan content strategy justru diukur dari
kemampuan konten dalam mendukung tujuan bisnis secara berkelanjutan. Konten
edukatif dapat membangun kepercayaan, konten inspiratif dapat memperkuat citra
merek, sedangkan konten promosi membantu mendorong keputusan pembelian.
Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi.
Dalam menyusun strategi konten, Yosua menilai riset audiens
menjadi tahap yang tidak boleh dilewatkan. Memahami usia, minat, perilaku,
hingga permasalahan yang dihadapi target pasar akan membantu perusahaan
menghasilkan konten yang lebih relevan. Ketika sebuah konten mampu menjawab
kebutuhan audiens, peluang terjadinya interaksi akan meningkat secara alami.
Selain memahami audiens, ia juga menekankan pentingnya
membangun content pillar atau pilar konten. Menurutnya, pilar konten
membantu sebuah brand tetap konsisten dalam menyampaikan pesan utama. Tanpa
pilar yang jelas, sebuah akun media sosial cenderung menghasilkan konten yang
tidak memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga sulit membangun identitas
yang kuat.
"Content pillar membantu brand memiliki arah. Audiens
akhirnya mengenal sebuah akun karena topik tertentu yang konsisten dibahas,
bukan hanya karena mengikuti tren yang sedang populer," jelasnya.
Yosua mencontohkan bahwa perusahaan di bidang kesehatan
dapat membagi kontennya ke dalam beberapa pilar seperti edukasi, tips gaya
hidup, informasi layanan, testimoni pelanggan, dan aktivitas perusahaan. Dengan
pendekatan tersebut, variasi konten tetap terjaga tanpa kehilangan identitas
utama.
Ia juga melihat bahwa storytelling menjadi salah satu elemen
yang semakin penting dalam content marketing. Menurutnya, manusia lebih mudah
mengingat sebuah cerita dibandingkan sekadar informasi yang disampaikan secara
langsung. Oleh karena itu, penyampaian pesan melalui pengalaman nyata, studi
kasus, maupun perjalanan sebuah brand dapat meningkatkan kedekatan emosional
dengan audiens.
Perkembangan berbagai platform media sosial juga membuat
perusahaan perlu menyesuaikan format kontennya. Konten yang efektif di LinkedIn
belum tentu menghasilkan performa yang sama di TikTok atau Instagram. Setiap
platform memiliki karakteristik pengguna, algoritma, dan pola konsumsi
informasi yang berbeda.
Menurut Yosua, proses adaptasi tersebut bukan berarti sebuah
brand harus mengubah identitasnya. Yang berubah adalah cara penyampaian pesan,
bukan nilai yang ingin disampaikan. Konsistensi identitas tetap menjadi fondasi
utama dalam membangun kepercayaan audiens.
Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan data untuk
mengevaluasi strategi konten. Berbagai metrik seperti engagement rate, watch
time, click-through rate, hingga conversion rate dapat memberikan gambaran
mengenai efektivitas sebuah konten. Data tersebut seharusnya menjadi dasar
dalam menyusun strategi berikutnya, bukan sekadar laporan rutin.
"Evaluasi adalah bagian dari strategi. Tanpa evaluasi,
kita tidak mengetahui apakah konten yang dibuat benar-benar memberikan hasil
atau hanya menghasilkan angka yang terlihat menarik," katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau AI
mulai dimanfaatkan dalam proses penyusunan konten. Menurut Yosua, AI dapat
membantu menghasilkan ide, membuat draft awal, hingga menganalisis tren yang
sedang berkembang. Namun demikian, ia menilai bahwa kreativitas manusia tetap
menjadi pembeda utama.
"AI dapat membantu mempercepat proses produksi, tetapi
nilai sebuah konten tetap berasal dari pemahaman terhadap audiens, pengalaman,
dan kreativitas manusia. Teknologi adalah alat, bukan pengganti strategi,"
ujarnya.
Selain faktor teknis, Yosua menilai bahwa kualitas sumber
daya manusia juga menentukan keberhasilan content strategy. Tim yang terdiri
dari penulis, desainer, videografer, editor, dan analis data perlu bekerja
secara terintegrasi agar setiap konten memiliki kualitas yang konsisten.
Kolaborasi antardisiplin menjadi semakin penting karena kebutuhan audiens terus
berkembang.
Ia juga mengingatkan bahwa content strategy bukan strategi
yang memberikan hasil instan. Membangun kepercayaan membutuhkan waktu, terutama
bagi brand yang baru memulai kehadiran digitalnya. Oleh karena itu, konsistensi
menjadi salah satu faktor yang paling menentukan.
Menurutnya, banyak perusahaan berhenti terlalu cepat ketika
belum melihat hasil dalam beberapa minggu pertama. Padahal, algoritma platform
digital maupun perilaku pengguna membutuhkan waktu untuk mengenali pola konten
yang disajikan. Konsistensi dalam menghasilkan konten berkualitas akan
memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dibandingkan strategi yang hanya
mengejar hasil jangka pendek.
Ke depan, Yosua melihat bahwa content marketing akan semakin
berkembang seiring meningkatnya penggunaan video pendek, teknologi AI, serta
personalisasi konten berdasarkan perilaku pengguna. Brand yang mampu
menggabungkan kreativitas, pemanfaatan data, dan pemahaman terhadap audiens
akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan yang kuat dengan
konsumennya.
Ia meyakini bahwa keberhasilan sebuah brand di media sosial
tidak lagi ditentukan oleh seberapa sering mereka mengunggah konten, melainkan
oleh seberapa relevan konten tersebut bagi audiens yang dituju. Ketika strategi
disusun dengan tujuan yang jelas, didukung riset yang memadai, serta dievaluasi
secara berkala, content marketing dapat menjadi salah satu aset paling berharga
dalam pertumbuhan bisnis.
Bagi Yosua
Banjarnahor, content strategy bukan sekadar rencana editorial, melainkan
fondasi komunikasi digital yang menghubungkan kebutuhan audiens dengan tujuan
bisnis. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, strategi konten yang
terarah, konsisten, dan berbasis data akan menjadi pembeda antara brand yang
hanya hadir di media sosial dengan brand yang benar-benar mampu membangun
hubungan jangka panjang dengan konsumennya.